Aku menuliskan ini dengan kesadaran yang utuh, tanpa tergesa dan tanpa ingin berlebihan. Ada masa ketika kepercayaan runtuh bukan karena dunia, melainkan karena seseorang yang pernah kuanggap rumah justru meninggalkan luka. Perempuan sebelumnya mengajariku satu pelajaran yang pahit: bahwa kedekatan tidak selalu berarti perlindungan. Sejak itu, aku belajar berhati-hati pada rasa, menunda harapan, dan menjaga jarak dari kemungkinan terluka kembali.
Lalu kamu hadir—bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai penanda bahwa hidup tidak berhenti pada satu peristiwa menyakitkan. Kamu datang ketika raga ini masih menyimpan bekas retak, ketika hatiku belum sepenuhnya pulih untuk percaya. Kamu tidak memaksa penyembuhan, tidak menuntut keyakinan yang instan. Kamu memilih hadir dengan sabar, seolah paham bahwa luka hanya bisa dipeluk, bukan dipercepat.
Terima kasih telah hadir di saat aku membutuhkan pelukan yang hangat—bukan untuk menghapus masa lalu, tetapi untuk membuatku berdamai dengannya. Pelukanmu tidak mengikat, tidak mengklaim, tidak menuntut. Ia hanya menguatkan. Dari caramu hadir, aku belajar bahwa cinta tidak selalu datang sebagai euforia, melainkan sebagai ketenangan yang perlahan menumbuhkan keberanian.
Support darimu tidak hadir sebagai tuntutan agar aku segera pulih, melainkan sebagai ruang aman untuk runtuh tanpa rasa malu. Kamu mendukung tanpa mengendalikan, menguatkan tanpa menggurui. Di titik ketika raga ini hancur berkeping-keping, kamu tidak berusaha menyusun diriku sesuai kehendakmu. Kamu memilih menemani, percaya bahwa aku akan menemukan bentukku sendiri.
Di antara semua ketenangan itu, diam-diam tumbuh sebuah harapan yang kupelihara dengan hati-hati. Aku berharap suatu saat nanti, ketika waktu telah cukup adil pada kita berdua, aku dapat menjadi seseorang yang kamu miliki—bukan karena terpaksa, melainkan karena kamu memilih. Dan di saat yang sama, kamu menjadi seseorang yang aku miliki—bukan sebagai kepemilikan yang membatasi, tetapi sebagai pertemuan dua manusia yang saling menjaga.
Jika kelak harapan ini menemukan jalannya, aku ingin kita bertemu bukan sebagai dua orang yang saling menyembuhkan, melainkan dua pribadi yang telah utuh dan memilih berjalan bersama. Hingga hari itu tiba, wanitaku, terima kasih telah hadir. Kehadiranmu telah mengajarkanku bahwa setelah luka, harapan masih pantas untuk dipercayai.
Created by
Mr. Nurmansyah